Rabu, 16 Juli 2014

Sebuah Kemungkinan bagi Sastra Asia Tenggara

Damhuri Muhammad
Kompas, 30 Maret 2014

Harapan untuk menjadi bagian dari sastra dunia, sejak beberapa tahun belakangan, beralih-rupa menjadi keresahan dalam ranah sastra Indonesia. Banyak sastrawan mengeluh lantaran sulitnya akses untuk penerjemahan karya-karya mereka ke dalam bahasa asing. Organisasi penerbit lebih tampak berperan sebagi EO (event organizer) pameran buku ketimbang merancang program-program yang terukur, guna mengantarkan sastra Indonesia ke gerbang sastra dunia.

Minggu, 06 Juli 2014

Keris yang Menikam Batu

Ahda Imran
Pikiran Rakyat, 28 Nov 2010

PADA dinding, sebuah banjir besar sedang menelan Kota Jakarta. Sedang di sebuah ruang sempit tampak hutan hanya tinggal jejak pepohonan. Daun-daun kering dan tanah yang berwarna kelabu, dan sebuah keran dengan tetesan air yang menggelantung di ujungnya, seolah tetesan air terakhir. Lewat cermin di setiap sisi ruang sempit itu, pemandangan hutan yang hancur tersebut sekonyong-konyong menjadi ruang yang demikian besar. Sehingga pemandangan hutan yang hancur itu tampak begitu memilukan. Ada memang sebatang pohon tampak masih tegak dengan sisa-sisa pokok dan dahannya. Akan tetapi, di pertengahan batangnya, tumbuh dan tegak menjulang tembok beton dan rangka-rangka besi. Sisa semen meleleh di ujung batang pohon.

Kamis, 03 Juli 2014

Menulis Teori di Tengah Tradisi Lisan

Dr. Faruk HT
http://www.jalasutra.com

Linguistik modern yang dipelopori Ferdinand de Saussure, dengan teorinya mengenai kearbitreran tanda bahasa, telah menumbuhkan pelbagai pandangan baru, bukan saja perihal pemahaman mengenai karya sastra, melainkan juga pemahaman mengenai pelbagai aspek kehidupan, termasuk apa yang disebut dengan realitas. Dalam pandangan baru ini, aktivitas pemahaman dipercaya tidak pernah bebas dari sikap apriori, prasangka, dan seperangkat cara pemahaman yang sudah ada dalam pikiran subjek yang memahami. Dengan kata lain, pandangan baru ini menyangkal sama sekali kemungkinan adanya pemahaman yang bersifat spontan, bersih dari pelbagai bentuk prasangka.

Senin, 09 Juni 2014

Mengarai Kata Menyinggasana Puisi

Abdul Kadir Ibrahim
www.tanjungpinangpos.co.id 02/02/2014

Kata: Akulah Puisi
Sekali lagi kita ajak para pemula dan sesiapa yang sudah merasa sebagai menulis puisi, tetapi mungkin merasa belum berhasil atau mengena, tiada jalan lain kecuali membaca puisi-puisi penyair lainnya yang sudah “jadi” dan selalu membaca dan mengubah secara mendalam puisi yang ditulis sendiri. Penulisan puisi boleh berangkat dari persoalan apapun, tetapi lagi-lagi ia tidak mengangkat persoalan ke dalam puisi sebagaimana faktanya seperti penulisan berita, reportase ataupun laporan. Puisi bahasa “istimewa” seni dan indah.

Sabtu, 07 Juni 2014

Ini soal Tenun Kebangsaan. Titik!

Anies Baswedan
Kompas, 12/09/12

Republik ini tidak dirancang untuk melindungi minoritas. Tidak juga untuk melindungi mayoritas. Republik ini dirancang untuk melindungi setiap warga negara, melindungi setiap anak bangsa!

Tak penting jumlahnya, tak penting siapanya. Setiap orang wajib dilindungi. Janji pertama Republik ini: melindungi segenap bangsa Indonesia. Saat ada warga negara yang harus mengungsi di negeri sendiri, bukan karena dihantam bencana alam tetapi karena diancam saudara sebangsa, Republik ini telah ingkar janji. Akhir-akhir ini nyawa melayang, darah terbuang percuma ditebas saudara sebahasa di negeri kelahirannya. Kekerasan terjadi dan berulang. Lalu berseliweran kata minoritas, mayoritas di mana-mana.

Pengikut