Selasa, 21 Oktober 2014

Sastra Kepulauan VI: Sebuah Proyek Eksperimen di Barru

Afrizal Malna *
Kompas, 25 Mei 2008

DI beberapa tenda peserta terjadi percakapan antara peserta Sastra Kepulauan yang umumnya mahasiswa sastra, berlangsung di kampung Nelayan Barru, Sulawesi Selatan (2-3 Mei lalu):

”Apa batasan puisi?”
”Bagaimana cara menulis puisi yang baik?”
Oke. Bisakah pertanyaan itu menjadi lebih baik lagi?
”Apa itu cinta? Apa itu waktu?”
”Bagaimanakah hubungan tubuh dengan bahasa?”

Inilah Kebalian Cerpen Indonesia

Judul: Penari Sanghyang
Pengarang: Mas Ruscitadewi
Penerbit: Arti Foundation Denpasar, 2007
Tebal: 100 halaman
Bali Post, 21 Okt 2007

Suara Diam dari Pesisir Selatan

: Catatan Kecil dari Panggung Penyair Pesisir Selatan
Heru Untung Leksono *
tanjungpinangpos.co.id

Menarik sekali mencermati perhelatan “Panggung Penyair Pesisir Selatan” yang dihelat oleh Komunitas Seni Budaya Belantara Kepulauan Riau yang digelar di Gedung Nasional Dabo Singkep pada hari Sabtu tanggal 1 Februari 2014, yang baru lalu. Gelaran perhelatan ini merupakan rangkaian kegiatan dari penutupan Lomba Baca Puisi tingkat SMP/SMA se-Kabupaten Lingga tahun 2014.

Masih Ada Sastrawan di Ranah Minang

Hendra Makmur
hendramakmur.wordpress.com

Sejak dulu, Ranah Minang dikenal sebagai gudangnya sastrawan. Hingga kini, proses regenerasi terus berlangsung. Gus tf Sakai, generasi muda sastrawan Minang, menyabet penghargaan sastra bergengsi ‘SEA Write Award’ dari Pemerintah Kerajaan Thailand.

Puluhan seniman, penyair, sastrawan, budayawan, akademisi dan wartawan, Sabtu (4/9/2004) lalu terlihat berkumpul di aula Gedung Genta Budaya, Jalan Diponegoro, Padang, Sumatra (Barat). Semua tampak terpaku mendengar ‘Kato Pasambahan’ (kata pembukaan berisi pepatah-petitih Minang) yang dibawakan Mak Khatib, seniman tradisi Minang, sebagai pembuka acara.

Sastra NTT yang Berpijak di Bumi

Yohanes Sehandi *
Pos Kupang, 13 Des 2011

Artikel opini ini lahir setelah membaca sejumlah artikel opini sastra dari sejumlah penulis/pengarang NTT yang dimuat Pos Kupang (PK) beberapa tahun terakhir ini.

Sejumlah opini sastra itu, antara lain: Sastra NTT dan Politik Publikasi (Bara Pattyradja); Sastra NTT Tak Pernah Mati (Yoseph Lagadoni Herin); Sastrawan NTT di Manakah Kau? (Marsel Robot); Sastra NTT dan Upaya Membongkar Kuburan Pesimisme (Jimmy Meko Hayong); dan Membangkitkan Sastra NTT (Gusty Fahik).

Pengikut